Langsung ke konten utama

Postingan

Doa Orang Kelaparan (Cerpen)

Namanya Orae. Kemarin umurnya genap 20 tahun. Bolehlah ia dikatakan sebagai penyandang gelar terbaru: dewasa. Bertambah lagi satu makhluk bumi yang sibuk mengurus dewasanya. Umurnya bertambah, setumpuk kisah hidupnya pula siap menyambut. Yang lama akan menghilang atau justru bertahan? Yang baru akan membaik atau lebih parah dari sebelumnya? Tidak ada yang berhak memutuskan Orae akan baik atau makin buruk, ialah sendiri yang berhak atas hidupnya. Kini ia tengah berada dalam kamarnya. Sedikit redup, gelap, dan suara bising terdengar dari luar kontrakannya. Ia terduduk sendiri memegang kuat-kuat perutnya. Lapar, mungkin itu adalah terjemahan paling tepat untuk Orae saat ini. Ia lapar bukan hanya dari isi perut, tapi juga lapar akan perubahan hidupnya yang tak kunjung membaik. “Sedangkan ia sekarang dipaksa, supaya ia bisa bersekolah.” Begitu isi percakapan orang tuanya yang tak sengaja ia dengar sewaktu ia baru saja pulang mengantar mimpi. Begitu ia mengingat itu, dengan cepat ia b...
Postingan terbaru

___Kamu tidak akan menjadi apa-apa jikalau kamu takut tak bisa apa-apa.

B E N A R. Banyak yang lebih bisa daripada kamu di luar sana. Lebih cepat daripada kamu. Lebih baik daripada kamu. Namun, mereka juga manusia. Tak terpikirkan seberapa banyak rintangan yang mereka lewati, cobaan yang diam-diam mereka hadapi, dan memperbaiki sendiri kekeliruan yang mungkin pernah terjadi. Kebiasaan kita hanya menatap hasil akhir. Kita dipaparkan hal-hal yang menyenangkan seolah di balik semua itu tak ada pengorbanan. Alasannya cukup sederhana, bahwa manusia tidak akan mau memberikan hasil yang mengecewakan, semua manusia ingin memberikan yang terbaik kepada sesamanya manusia. Maka mereka kemudian menyembunyikan pengorbanan mereka dalam diam, dan tak jarang menyembunyikan tangisannya demi memberikan yang terbaik bagi sesama, terlebih khusus pada dirinya sendiri. Setelah semua itu berlalu, mereka akan muncul membawa kabar baik dari perjuangan mereka. Dan kita akan menontonnya hingga kita terlena, tertampar, dan menunda banyak waktu untuk merenungkan keberhasilan mereka. ...

Proses

D A L A M prosesku juga tak banyak orang di dalamnya, hanya ada beberapa, dapat terhitung jari. Bahkan orang yang kupikir mana mungkin bisa hadir memberiku dukungan, justru menjadi salah satu orang yang memberiku dukungan untuk terus melangkah. Teman-teman tak seberapa, realita pahitnya bahkan ada yang justru menjatuhkan.  Dulu, aku selalu mencari dukungan dari orang-orang. Aku bukan mencarinya untuk terlihat keren atau apa, aku mencarinya karena aku ingin belajar apa yang kulakukan sudah benar atau tidak, terlebih-lebih bahwa hidupku terlalu sepi.  Orang tuaku pun tak tahu apa yang sedang kuusahakan. Mereka buta huruf, mereka hanya tahu bahwa aku kuliah dengan baik dan suatu kelak butuh uang. Saudara juha membantuku tapi mereka juga sibuk dengan dengan dunianya masing-masing, hanya mereka selalu mendukung prosesku dan membantuku walau hanya sesekali. Sepanjang itu, aku terus mencari‐cari bagaimana caranya untuk tetap semangat dan tidak tumbang dalam setiap usaha y...

05 Maret 2026

A K U akui keberanianku pada 05 Maret 2026. Tepat pada pukul 23.33 WITA aku memberanikan diri untuk melepaskan masa laluku. Aku tahu itu berat dan sangat susah kukeluarkan dari dalam perasaanku. Namun apa yang menempel seperti permen karet itu telah berhasil sepenuhnya lepas dari diriku. Walaupun jujur bahwa aku masih memiliki harapan besar, dia akan menghubungiku dan memintaku kembali. Setelah hari waktu melintas hingga kini 15.06 WITA, aku memutuskan untuk mutlak melepaskan. Aku bebas teman-teman. Aku sudah tidak ada di masa lalu. Akhirnya aku benar-benar seberani itu melepaskan masa laluku setelah dari 2022 hingga 2026. 4 tahun tersimpan menjadi beban di kepalaku.  Aku tahu, bahwa dia yang menemaniku dari nol, tapi aku rasa semua manusia akan pergi. Bahkan aku sendiri pernah pergi dari Tuhanku, pergi dari rumahku, lantaran mengapa aku tidak bisa pergi dari seorang manusia yang hanya sebatas orang asing?  Aku pula tahu bahwa dia telah menjadi alasanku hingga di detik ini. Bi...

Bangun Membangun Kebutuhan

Lakukan saja apa yang membuat kamu menemukan kesenangan bagi dirimu sendiri, namun tetap mempertimbangkan kebutuhan. Sesuaikan dengan kebutuhan dan fokuskan diri pada perubahan lewat kesenangan yang sudah kamu bangun. Bila masih tertunduk pada komentar-komentar manusia—itu tidak ada ujungnya. Tak mengapa membuka telinga bila memang komentarnya sesuai dengan kebutuhan. Keputusan untuk mendengarkan komentar ada ditanganmu. Dan, kalaupun kesenangan yang kamu bangun sama sekali tidak merugikan orang lain, saat itulah kesempatanmu untuk memenangkan dirimu. Bayangkan; dengan kesenangan yang kamu bangun dan kemudian orang sekitarmu merasa risih—padahal tidak merugikan siapa pun, maka saat itulah kamu mendapatkan dua keutungan: petama, kamu dapat tumbuh dan kedua, orang sekitarmu masih memikirkan kesenanganmu, sementara kamu sudah memikirkan tangga berikutnya sebab kamu sudah selangkah lebih maju. Dulu mungkin kamu terlalu banyak memakan semuanya, tak masalah. Tak-tik untuk mengubah dunia mem...

Absurdum

Seseorang dengan kecerdesannya cenderung menyembunyikan dirinya dari kelompok mana pun ataukah yang semacamnya. Sebab bagi mereka, kecerdasan bukan suatu kemewahan yang harus diperlihatkan tapi untuk menyadari sebuah kekeliruan. Karena menjadi penuh kebijaksanaan dan kecerdasan melibatkan banyak kesalahan dan kekeliruan, tak jarang menjadi rasa minder dan/atau malu dengan sikap yang terlalu berlebihan. Olehnya, kecerdesan dan kebijaksanaan bukan semata-mata lahir tanpa kesalahan, melainkan melalui proses yang melibatkan mental dan harapan. Dan, tersemoga di hari-hari berikutnya menjadi lebih mempertimbangkan suatu kesimpulan untuk menunjukkan diri pada orang lain. Itulah kemudian yang oleh orang-orang bijaksana beristilah "ilmu padi" dan "kosongkan gelasmu".