B E N A R. Banyak yang lebih bisa daripada kamu di luar sana. Lebih cepat daripada kamu. Lebih baik daripada kamu. Namun, mereka juga manusia. Tak terpikirkan seberapa banyak rintangan yang mereka lewati, cobaan yang diam-diam mereka hadapi, dan memperbaiki sendiri kekeliruan yang mungkin pernah terjadi. Kebiasaan kita hanya menatap hasil akhir. Kita dipaparkan hal-hal yang menyenangkan seolah di balik semua itu tak ada pengorbanan. Alasannya cukup sederhana, bahwa manusia tidak akan mau memberikan hasil yang mengecewakan, semua manusia ingin memberikan yang terbaik kepada sesamanya manusia. Maka mereka kemudian menyembunyikan pengorbanan mereka dalam diam, dan tak jarang menyembunyikan tangisannya demi memberikan yang terbaik bagi sesama, terlebih khusus pada dirinya sendiri. Setelah semua itu berlalu, mereka akan muncul membawa kabar baik dari perjuangan mereka. Dan kita akan menontonnya hingga kita terlena, tertampar, dan menunda banyak waktu untuk merenungkan keberhasilan mereka. ...
D A L A M prosesku juga tak banyak orang di dalamnya, hanya ada beberapa, dapat terhitung jari. Bahkan orang yang kupikir mana mungkin bisa hadir memberiku dukungan, justru menjadi salah satu orang yang memberiku dukungan untuk terus melangkah. Teman-teman tak seberapa, realita pahitnya bahkan ada yang justru menjatuhkan. Dulu, aku selalu mencari dukungan dari orang-orang. Aku bukan mencarinya untuk terlihat keren atau apa, aku mencarinya karena aku ingin belajar apa yang kulakukan sudah benar atau tidak, terlebih-lebih bahwa hidupku terlalu sepi. Orang tuaku pun tak tahu apa yang sedang kuusahakan. Mereka buta huruf, mereka hanya tahu bahwa aku kuliah dengan baik dan suatu kelak butuh uang. Saudara juha membantuku tapi mereka juga sibuk dengan dengan dunianya masing-masing, hanya mereka selalu mendukung prosesku dan membantuku walau hanya sesekali. Sepanjang itu, aku terus mencari‐cari bagaimana caranya untuk tetap semangat dan tidak tumbang dalam setiap usaha y...