Langsung ke konten utama

Proses



D A L A M prosesku juga tak banyak orang di dalamnya, hanya ada beberapa, dapat terhitung jari. Bahkan orang yang kupikir mana mungkin bisa hadir memberiku dukungan, justru menjadi salah satu orang yang memberiku dukungan untuk terus melangkah. Teman-teman tak seberapa, realita pahitnya bahkan ada yang justru menjatuhkan. 

Dulu, aku selalu mencari dukungan dari orang-orang. Aku bukan mencarinya untuk terlihat keren atau apa, aku mencarinya karena aku ingin belajar apa yang kulakukan sudah benar atau tidak, terlebih-lebih bahwa hidupku terlalu sepi. 

Orang tuaku pun tak tahu apa yang sedang kuusahakan. Mereka buta huruf, mereka hanya tahu bahwa aku kuliah dengan baik dan suatu kelak butuh uang. Saudara juha membantuku tapi mereka juga sibuk dengan dengan dunianya masing-masing, hanya mereka selalu mendukung prosesku dan membantuku walau hanya sesekali.

Sepanjang itu, aku terus mencari‐cari bagaimana caranya untuk tetap semangat dan tidak tumbang dalam setiap usaha yang kuharapkan. Sehingga tak jarang aku ragu pada proses sendiri. Terkadang ingin berdoa agar aku terus melangkah tanpa kehilangan arah untuk menggapai mimpi.

Setelah aku sadar bahwa mungkin kesendirian bukan tercipta tanpa arti sama sekali. Aku pun mulai mengartikan kesendirian itu dan menarik kesimpulan bahwa kesendirian yang diberikan padaku bukan untuk mencari dukungan atau pengakuan. Kesendirian diberikan padaku untuk belajar hidup tanpa ganguan dari seseorang, diajar untuk membangun mimpi dan harapan sendiri, hingga aku sadar bahwa semua yang sedang terjadi adalah untuk kebaikanku.

Hari itu pula, aku menyemangati diriku sendiri dan tidak berharap pada siapapun. Melewatinya memang tidak mudah, tapi lama kelamaan, aku terbiasa mendukung diri sendiri dan membawa sendiri mimpi dari tahap ke tahap. 

Dalam proses, memang tidak ada banyak orang tapi bukan berarti aku dilupakan. Aku hanya diberi waktu untuk fokus pada mimpi dan harapanku. Mereka yang kuharapkan mungkin juga ingin sepertiku atau juga sedang memperjuangkan mimpinya. Mungkin juga mereka sedang membandingkan prosesnya dan apa yang tengah aku jalani.

Pada akhirnya, aku semakin terbiasa dengan hal-hal seperti itu dan tetap maju sekalipun itu aku sendiri. Lagian yang menikmati bukan orang-orang tetapi aku sendiri. 

☺✊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Doa Orang Kelaparan (Cerpen)

Namanya Orae. Kemarin umurnya genap 20 tahun. Bolehlah ia dikatakan sebagai penyandang gelar terbaru: dewasa. Bertambah lagi satu makhluk bumi yang sibuk mengurus dewasanya. Umurnya bertambah, setumpuk kisah hidupnya pula siap menyambut. Yang lama akan menghilang atau justru bertahan? Yang baru akan membaik atau lebih parah dari sebelumnya? Tidak ada yang berhak memutuskan Orae akan baik atau makin buruk, ialah sendiri yang berhak atas hidupnya. Kini ia tengah berada dalam kamarnya. Sedikit redup, gelap, dan suara bising terdengar dari luar kontrakannya. Ia terduduk sendiri memegang kuat-kuat perutnya. Lapar, mungkin itu adalah terjemahan paling tepat untuk Orae saat ini. Ia lapar bukan hanya dari isi perut, tapi juga lapar akan perubahan hidupnya yang tak kunjung membaik. “Sedangkan ia sekarang dipaksa, supaya ia bisa bersekolah.” Begitu isi percakapan orang tuanya yang tak sengaja ia dengar sewaktu ia baru saja pulang mengantar mimpi. Begitu ia mengingat itu, dengan cepat ia b...

___Kamu tidak akan menjadi apa-apa jikalau kamu takut tak bisa apa-apa.

B E N A R. Banyak yang lebih bisa daripada kamu di luar sana. Lebih cepat daripada kamu. Lebih baik daripada kamu. Namun, mereka juga manusia. Tak terpikirkan seberapa banyak rintangan yang mereka lewati, cobaan yang diam-diam mereka hadapi, dan memperbaiki sendiri kekeliruan yang mungkin pernah terjadi. Kebiasaan kita hanya menatap hasil akhir. Kita dipaparkan hal-hal yang menyenangkan seolah di balik semua itu tak ada pengorbanan. Alasannya cukup sederhana, bahwa manusia tidak akan mau memberikan hasil yang mengecewakan, semua manusia ingin memberikan yang terbaik kepada sesamanya manusia. Maka mereka kemudian menyembunyikan pengorbanan mereka dalam diam, dan tak jarang menyembunyikan tangisannya demi memberikan yang terbaik bagi sesama, terlebih khusus pada dirinya sendiri. Setelah semua itu berlalu, mereka akan muncul membawa kabar baik dari perjuangan mereka. Dan kita akan menontonnya hingga kita terlena, tertampar, dan menunda banyak waktu untuk merenungkan keberhasilan mereka. ...

05 Maret 2026

A K U akui keberanianku pada 05 Maret 2026. Tepat pada pukul 23.33 WITA aku memberanikan diri untuk melepaskan masa laluku. Aku tahu itu berat dan sangat susah kukeluarkan dari dalam perasaanku. Namun apa yang menempel seperti permen karet itu telah berhasil sepenuhnya lepas dari diriku. Walaupun jujur bahwa aku masih memiliki harapan besar, dia akan menghubungiku dan memintaku kembali. Setelah hari waktu melintas hingga kini 15.06 WITA, aku memutuskan untuk mutlak melepaskan. Aku bebas teman-teman. Aku sudah tidak ada di masa lalu. Akhirnya aku benar-benar seberani itu melepaskan masa laluku setelah dari 2022 hingga 2026. 4 tahun tersimpan menjadi beban di kepalaku.  Aku tahu, bahwa dia yang menemaniku dari nol, tapi aku rasa semua manusia akan pergi. Bahkan aku sendiri pernah pergi dari Tuhanku, pergi dari rumahku, lantaran mengapa aku tidak bisa pergi dari seorang manusia yang hanya sebatas orang asing?  Aku pula tahu bahwa dia telah menjadi alasanku hingga di detik ini. Bi...