Langsung ke konten utama

Doa Orang Kelaparan (Cerpen)

Namanya Orae. Kemarin umurnya genap 20 tahun. Bolehlah ia dikatakan sebagai penyandang gelar terbaru: dewasa. Bertambah lagi satu makhluk bumi yang sibuk mengurus dewasanya. Umurnya bertambah, setumpuk kisah hidupnya pula siap menyambut. Yang lama akan menghilang atau justru bertahan? Yang baru akan membaik atau lebih parah dari sebelumnya? Tidak ada yang berhak memutuskan Orae akan baik atau makin buruk, ialah sendiri yang berhak atas hidupnya.

Kini ia tengah berada dalam kamarnya. Sedikit redup, gelap, dan suara bising terdengar dari luar kontrakannya. Ia terduduk sendiri memegang kuat-kuat perutnya. Lapar, mungkin itu adalah terjemahan paling tepat untuk Orae saat ini. Ia lapar bukan hanya dari isi perut, tapi juga lapar akan perubahan hidupnya yang tak kunjung membaik.

“Sedangkan ia sekarang dipaksa, supaya ia bisa bersekolah.” Begitu isi percakapan orang tuanya yang tak sengaja ia dengar sewaktu ia baru saja pulang mengantar mimpi.

Begitu ia mengingat itu, dengan cepat ia berlari keluar dari dalam kamarnya. Orae berusaha mencoba mengusir ingatan itu dengan cara mengasyikkan diri. Di luar, seorang tetangga kontrakannya baru saja pulang membeli makanan. Ia mematai makanan yang di beli tetangganya, sudah itu menelan ludahnya dan masuk kembali ke dalam kamanya.

Ia mengunci rapat pintu kontrakannya, ia tak mampu menahan hasrat laparnya. Tangannya perlahan membuka lemari dan mencari uang bulanannya. Tertinggal seribu rupiah. Ia tak berdaya lagi begitu melihat uang yang ada dalam genggamannya. Uang seribu rupiah tak cukup membuatnya kenyang. Harga permen karet dan satu roti bisa saja ia beli, namun ia memutuskan untuk tidak membeli apa-apa. Pada akhirnya, ia memasukkan kembali uang itu ke dalam lemarinya.

Ia meluruskan kakinya dan bersandar pada dinding dengan gemetaran tubuhnya yang perlahan semakin keras. Dari kejauhan, kedua kupingnya jelas menangkap suara tetangga sedang menikmati makanan mereka. Timbullah hasratnya untuk meminta sedikit, namun rasa tak enak berkuasa dalam dirinya, selebihnya adalah rasa malu yang lebih besar daripada hamparan pasir gurun.

Dalam kegemetaran itu, ia mulai berandai-andai. Temannya datang dan berkata padanya. “Kau baik-baik saja?”

“Tidak. Aku lapar,” jawab Orae.

Ia tersenyum kecil lalu meneruskan pengandaian itu.

“Ayo ke rumahku, di sana ada daging, nasi yang banyak, jus, cokelat, atau kamu mau ayam bakar?” tawar temannya itu.

“Aku hanya ingin nasi campur garam,” jawab Orae.

Temannya itu tertawa. “Ah, itu terlalu primitif di rumahku.”

Mendengar kata itu, Orae berubah pikiran. “Primitif? Apa kamu belum pernah mencoba makanan selezat itu?”

Temannya tertawa menjadi-jadi. “Itu makanan apa, ha? Itu sudah terlalu kuno.”

Orae tersenyum sinis. “Kalian yang kelimpahan makanan terlalu cepat menganggap makanan kalian paling mewah dan modern, padahal seorang pemulung berkata, ‘sampah kalian adalah makanan kami’, apa kamu sadar?”

Temannya itu tertawa lagi. “Ah... itu tidak payah dipikirkan. Ayo ke rumahku.”

“Aku lebih baik membusuk di sini, ketimbang memakan hasil keringat majikanmu,” tolak Orae.

Temannya itu mengangkat kedua bahunya lalu menghilang di balik pintu.

Orae tersadar dari pengandaiannya. Ia menutup matanya dengan pelan dan mulai melambungkan doa-doa dalam kelaparannya. Di dalam doanya masih mendoakan orang yang mungkin saat ini kelaparan, sama seperti dirinya. Namun karena doa itu, ia menemui harapan untuk hidup.

Ia mengambil segelas air dari kran, lalu meneguknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH

  "Bersamamu, aku lebih merasa hidup dan lebih merasa ada, dibandingkan dengan peran-peran palsu yang aku perankan setiap hari." Di suatu ketika kita bertemu di hari yang biasa; hari yang istirahat, tanpa kebisingan, kesibukan, dan orang-orang, hanya ada aku dan kamu. Manakala di ketika kita menemukan arti, bahwa masa depan kita adalah milik masing-masing sampainya kita bertemu kembali di tempat lahirnya romansa dan harmonisasi.  Tempat yang orang-orang menyebutnya rumah, di sanalah kau duduk di sampingku, memberiku setumpuk kata yang membuatku menemukan alasan untuk tidak menyerah. Demikian ketika kamu berada jauh di bawa lelah, kamu datang mencari sebuah sandaran untuk mengembalikan semua semangatmu untuk terus melangkah.  Saat yang sama aku lelah dan kamu pun lelah, lalu saling memberikan semangat yang masih tersisa, barulah kemudian kita menemukan kenyamanan dan rasa aman. Walaupun benar, bahwa kita sama-sama lelah tapi tidak ingin melihat ada yang terjatuh. Itulah ke...

Bangun Membangun Kebutuhan

Lakukan saja apa yang membuat kamu menemukan kesenangan bagi dirimu sendiri, namun tetap mempertimbangkan kebutuhan. Sesuaikan dengan kebutuhan dan fokuskan diri pada perubahan lewat kesenangan yang sudah kamu bangun. Bila masih tertunduk pada komentar-komentar manusia—itu tidak ada ujungnya. Tak mengapa membuka telinga bila memang komentarnya sesuai dengan kebutuhan. Keputusan untuk mendengarkan komentar ada ditanganmu. Dan, kalaupun kesenangan yang kamu bangun sama sekali tidak merugikan orang lain, saat itulah kesempatanmu untuk memenangkan dirimu. Bayangkan; dengan kesenangan yang kamu bangun dan kemudian orang sekitarmu merasa risih—padahal tidak merugikan siapa pun, maka saat itulah kamu mendapatkan dua keutungan: petama, kamu dapat tumbuh dan kedua, orang sekitarmu masih memikirkan kesenanganmu, sementara kamu sudah memikirkan tangga berikutnya sebab kamu sudah selangkah lebih maju. Dulu mungkin kamu terlalu banyak memakan semuanya, tak masalah. Tak-tik untuk mengubah dunia mem...

Tetanggaku

"Orang yang paham akan cenderung mempelajari dan, orang yang tidak paham akan cenderung menghakimi." Masyarakat Sini. Beginilah hidup di tengah-tengah mereka. Apa-apa kalau kita orang tak berada yah di lihat ke bawah. Padahal aslinya otak mereka harus sedikit di bedah. Tidak harus banyak. Sedikit saja.  Hidup di tengah-tengah mereka, tidak jarang membuatku menepi. Bukan karena takut atau tidak berani. Tapi, mau dikasih tahu mereka tidak peduli. Dibiarkan malah menjadi-jadi. Lepas itu. Mereka yang sepaham akan sama-sama mempelajari dan mereka yang tidak sepaham akan sama-sama menghakimi.  Tak jarang pula, aku kerap menemukan kejanggalan. Yang katanya beretorika jadinya mengada-ada. Yang katanya berlogika jadinya pasang dada. Yang katanya punya segalanya jadinya meminta-minta tenaga kerja. Jadi pusing yang pamam mana dan yang tidak.