Seseorang dengan kecerdesannya cenderung menyembunyikan dirinya dari kelompok mana pun ataukah yang semacamnya. Sebab bagi mereka, kecerdasan bukan suatu kemewahan yang harus diperlihatkan tapi untuk menyadari sebuah kekeliruan.
Karena menjadi penuh kebijaksanaan dan kecerdasan melibatkan banyak kesalahan dan kekeliruan, tak jarang menjadi rasa minder dan/atau malu dengan sikap yang terlalu berlebihan.
Olehnya, kecerdesan dan kebijaksanaan bukan semata-mata lahir tanpa kesalahan, melainkan melalui proses yang melibatkan mental dan harapan. Dan, tersemoga di hari-hari berikutnya menjadi lebih mempertimbangkan suatu kesimpulan untuk menunjukkan diri pada orang lain. Itulah kemudian yang oleh orang-orang bijaksana beristilah "ilmu padi" dan "kosongkan gelasmu".
"Bersamamu, aku lebih merasa hidup dan lebih merasa ada, dibandingkan dengan peran-peran palsu yang aku perankan setiap hari." Di suatu ketika kita bertemu di hari yang biasa; hari yang istirahat, tanpa kebisingan, kesibukan, dan orang-orang, hanya ada aku dan kamu. Manakala di ketika kita menemukan arti, bahwa masa depan kita adalah milik masing-masing sampainya kita bertemu kembali di tempat lahirnya romansa dan harmonisasi. Tempat yang orang-orang menyebutnya rumah, di sanalah kau duduk di sampingku, memberiku setumpuk kata yang membuatku menemukan alasan untuk tidak menyerah. Demikian ketika kamu berada jauh di bawa lelah, kamu datang mencari sebuah sandaran untuk mengembalikan semua semangatmu untuk terus melangkah. Saat yang sama aku lelah dan kamu pun lelah, lalu saling memberikan semangat yang masih tersisa, barulah kemudian kita menemukan kenyamanan dan rasa aman. Walaupun benar, bahwa kita sama-sama lelah tapi tidak ingin melihat ada yang terjatuh. Itulah ke...
Komentar
Posting Komentar