B E N A R. Banyak yang lebih bisa daripada kamu di luar sana. Lebih cepat daripada kamu. Lebih baik daripada kamu. Namun, mereka juga manusia. Tak terpikirkan seberapa banyak rintangan yang mereka lewati, cobaan yang diam-diam mereka hadapi, dan memperbaiki sendiri kekeliruan yang mungkin pernah terjadi.
Kebiasaan kita hanya menatap hasil akhir. Kita dipaparkan hal-hal yang menyenangkan seolah di balik semua itu tak ada pengorbanan. Alasannya cukup sederhana, bahwa manusia tidak akan mau memberikan hasil yang mengecewakan, semua manusia ingin memberikan yang terbaik kepada sesamanya manusia. Maka mereka kemudian menyembunyikan pengorbanan mereka dalam diam, dan tak jarang menyembunyikan tangisannya demi memberikan yang terbaik bagi sesama, terlebih khusus pada dirinya sendiri.
Setelah semua itu berlalu, mereka akan muncul membawa kabar baik dari perjuangan mereka. Dan kita akan menontonnya hingga kita terlena, tertampar, dan menunda banyak waktu untuk merenungkan keberhasilan mereka. Lambat-lambat, kita mulai membandingkan diri sendiri dengan orang lain, kita merasa bahwa kita sudah tertinggal jauh dan tidak bisa menggapai mimpi karena orang lain telah mendahului kita.
Bukan masalah siapa yang lebih awal, namun masalah besarnya adalah takut untuk memulai. Takut untuk diasingkan, takut untuk dicaci, dikucilkan, dibenci, dan ditinggalkan. Ketakutan itu bersarang sampai nanti akhirnya menjadi alasan kuat untuk lari dari kegagalanmu. Bahwa kamu tidak bisa, bahwa semua telah dilakukan oleh orang yang lebih baik darimu, dan bahwa tidak ada peluang untukmu.
Sadarilah satu hal tentang rezeki. Dia tidak akan tertukar. Dan kalaupun bukan kepadamu, dia akan tiba dengan bentuk yang berbeda. Entah itu kesehatanmu, jodohmu, orang-orang baik, dan masih banyak bentuk lainnya. Itu semua adalah rezeki, dan karena itu yang dapat membuatmu bangun dan bisa bergerak maju.
Hidup tidak akan ada selesainya bila dibandingkan. Motivasi tidak akan ada habisnya kita dapatkan dan kita baca, bahkan dalam sehari kita bisa menyelesaikan buku-buku motivasi, namun tanpa pergerakan, itu termasuk kekeliruan. Motivasi terbesar ada pada diri sendiri dan bagaimana kita mengonsumsi motivasi itu agar bisa bermanfaat bagi sesama dan diri sendiri.
Bangunlah, kita tidak akan menjadi apa-apa jikalau kita takut tak bisa apa-apa. Semua orang bisa melakukannya tapi tidak semua orang benar-benar mau melakukannya. Semua orang adalah pecinta tapi tak semua orang adalah pencinta.
Komentar
Posting Komentar