Langsung ke konten utama

Renungan- 2 (Meditasi)

Tidak terasa waktu terus saja berjalan. Melintasi hidup dan kehidupan. Emas paling berarti bukan tentang material-material yang aku pelajari di kampus. Namun, sekarang, emas paling berarti itu berupa waktu.

Terasa baru saja kemarin kita merjaut bahagia, merangkai sejarah, dan mengukir masa depan. Tatkala itu telah usai, aku harap kita adalah sadrah yang tidak akan lenyap dalam kisah.

Saking banyaknya emas itu. Aku kerap lupa bahwa dirimu senantiasa menunggu kehadiranku lagi. Aku hanyut oleh emas itu hingga aku lupa menengok dirimu. Yah sekalipun tidak dapat ku perjelas dengan kedua mata, setidaknya aku sadar bahwa kau adalah segalanya untukku.

Kita itu aneh. Kita itu lucu. Bagaimana tidak, setiap hari kita bertengkar. Tidak pernah sejalan. Sesekali saja kita sejalan jika itu benar-benar adalah perihal proses kita.
Di sisi lain. Kita juga hebat. Meski tidak sejalan dan terus bertengkar. Tetapi, kita tetap menyelesaikan hari-hari buruk dan baik kita. Sungguh! Kau adalah satu-satunya yang paling aku rindukan. Kau adalah yang tidak pernah meninggalkan aku.

Malam ini, aku menembus celah-celah dinding batin, menerobos luka, dan perlahan mendekatkan diriku padamu. Tepi bibirku melengkung sempurna setelah mendapati dirimu baik-baik saja. Aku memejamkan mataku. Memperlambat napasku hingga terbang ke dunia yang kita ciptakan bersama.

Kita tahu; Dunia kita berdua, unik dan istimewa. Semua manusia seperti itu. Kendatipun begitu, jarang yang benar-benar memahami perihal itu. Esensi dan Eksistensi! Itulah kita. Pernah sekali kau katakan, "Untuk apa kita hidup jika hanya sekadar hidup. Rasa-rasanya itu hambar." 
Benar. Kita adalah dua yang terpisah, tapi satu dalam raga ini—manusia.

Untuk diriku sendiri dan/atau aku dan kamu. Kuat-kuat yah, jangan lelah, jangan rapuh, selalu kokoh, dan jangan mengeluh sampai kita benar-benar—sudah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH

  "Bersamamu, aku lebih merasa hidup dan lebih merasa ada, dibandingkan dengan peran-peran palsu yang aku perankan setiap hari." Di suatu ketika kita bertemu di hari yang biasa; hari yang istirahat, tanpa kebisingan, kesibukan, dan orang-orang, hanya ada aku dan kamu. Manakala di ketika kita menemukan arti, bahwa masa depan kita adalah milik masing-masing sampainya kita bertemu kembali di tempat lahirnya romansa dan harmonisasi.  Tempat yang orang-orang menyebutnya rumah, di sanalah kau duduk di sampingku, memberiku setumpuk kata yang membuatku menemukan alasan untuk tidak menyerah. Demikian ketika kamu berada jauh di bawa lelah, kamu datang mencari sebuah sandaran untuk mengembalikan semua semangatmu untuk terus melangkah.  Saat yang sama aku lelah dan kamu pun lelah, lalu saling memberikan semangat yang masih tersisa, barulah kemudian kita menemukan kenyamanan dan rasa aman. Walaupun benar, bahwa kita sama-sama lelah tapi tidak ingin melihat ada yang terjatuh. Itulah ke...

Bangun Membangun Kebutuhan

Lakukan saja apa yang membuat kamu menemukan kesenangan bagi dirimu sendiri, namun tetap mempertimbangkan kebutuhan. Sesuaikan dengan kebutuhan dan fokuskan diri pada perubahan lewat kesenangan yang sudah kamu bangun. Bila masih tertunduk pada komentar-komentar manusia—itu tidak ada ujungnya. Tak mengapa membuka telinga bila memang komentarnya sesuai dengan kebutuhan. Keputusan untuk mendengarkan komentar ada ditanganmu. Dan, kalaupun kesenangan yang kamu bangun sama sekali tidak merugikan orang lain, saat itulah kesempatanmu untuk memenangkan dirimu. Bayangkan; dengan kesenangan yang kamu bangun dan kemudian orang sekitarmu merasa risih—padahal tidak merugikan siapa pun, maka saat itulah kamu mendapatkan dua keutungan: petama, kamu dapat tumbuh dan kedua, orang sekitarmu masih memikirkan kesenanganmu, sementara kamu sudah memikirkan tangga berikutnya sebab kamu sudah selangkah lebih maju. Dulu mungkin kamu terlalu banyak memakan semuanya, tak masalah. Tak-tik untuk mengubah dunia mem...

Tetanggaku

"Orang yang paham akan cenderung mempelajari dan, orang yang tidak paham akan cenderung menghakimi." Masyarakat Sini. Beginilah hidup di tengah-tengah mereka. Apa-apa kalau kita orang tak berada yah di lihat ke bawah. Padahal aslinya otak mereka harus sedikit di bedah. Tidak harus banyak. Sedikit saja.  Hidup di tengah-tengah mereka, tidak jarang membuatku menepi. Bukan karena takut atau tidak berani. Tapi, mau dikasih tahu mereka tidak peduli. Dibiarkan malah menjadi-jadi. Lepas itu. Mereka yang sepaham akan sama-sama mempelajari dan mereka yang tidak sepaham akan sama-sama menghakimi.  Tak jarang pula, aku kerap menemukan kejanggalan. Yang katanya beretorika jadinya mengada-ada. Yang katanya berlogika jadinya pasang dada. Yang katanya punya segalanya jadinya meminta-minta tenaga kerja. Jadi pusing yang pamam mana dan yang tidak.