Langsung ke konten utama

Rasa Sakit (Batin)

Rasa sakit!

Mendengarnya saja sudah membuat kepalaku khawatir tentang itu. Tapi tidak. Ini bukan tentang luka-luka kok. Bukan tentang kakinya patah, wajahnya lecet, tangannya kegores, bukan itu kok. Yah emang sih, ini juga salah satu luka. Tapi bedanya ia tak berdarah. Sudah tak asing lagi dengan kata itu kan? Yaps, benar. Ini adalah tentang rasa sakit dalam batin.

Kalau dipikir-pikir rasa sakit itu benar-benar membuatku lelah. Namun, faedahnya cukup bagus dan yah sangat bagus. Bukan malah mau nyari rasa sakit terus tapi maksudnya rasa sakit itu justru ada gunanya. Bahkan, untuk seorang sepertiku sangat membutuhkan itu. Tanpa rasa sakit aku sulit untuk melakukan sebuah aksi. Walaupun bahagia juga masih bisa beraksi tapi tak jarang cuma itu—itu-itu saja. Dengan kata lain, beraksi tapi cuman berputar di situ-situ saja. Kalau bahagianya udah hilang pasti bakal down lagi. Akan tetapi dengan rasa sakit itu, aku bisa saja terus-terusan mencoba bangkit, jatuh, bangun lagi sampai rasa sakit itu benar-benar tidak terasa lagi.

Aku pun tak tahu apa perspektif orang tentang rasa sakit. Tapi tanpa rasa sakit itu, orang-orang bakal susah menemukan siapa sebetulnya dirinya. Rasa sakit telah mengantarkan aku pada sosok siapa aku sebenarnya. Sosok yang telah lama aku tinggalkan karena terobsesi sama kenikmatan duniawi yang nyatanya tidak seindah kenikmatan yang diperoleh dari diri sendiri. 

Rasa sakit dalam batin memang lama sembuhnya. Bahkan tak jarang berakhir dengan tragis. Tekanannya sangat tinggi membuat pengidap sakit itu kehilangan dirinya sendiri, kehilangan semangat, dan tentunya dengan harapan. Pada kehidupan mereka tidak lagi peduli. Di sisi lain ketika rasa sakit itu dilawan, ditantang, dan terus berjuang. Maka lain daripada tidak, kelak nanti hidup yang kita peroleh sangat luar biasa.

Tentang siapa yang tumbuh bersama rasa sakit. 
Tentang siapa yang berjalan dengan rasa sakit.
Dan, tentang siapa yang melawan rasa sakit.
Jangan pernah takut
Teruslah gerakkan lutut
Kita adalah yang paling kuat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAH

  "Bersamamu, aku lebih merasa hidup dan lebih merasa ada, dibandingkan dengan peran-peran palsu yang aku perankan setiap hari." Di suatu ketika kita bertemu di hari yang biasa; hari yang istirahat, tanpa kebisingan, kesibukan, dan orang-orang, hanya ada aku dan kamu. Manakala di ketika kita menemukan arti, bahwa masa depan kita adalah milik masing-masing sampainya kita bertemu kembali di tempat lahirnya romansa dan harmonisasi.  Tempat yang orang-orang menyebutnya rumah, di sanalah kau duduk di sampingku, memberiku setumpuk kata yang membuatku menemukan alasan untuk tidak menyerah. Demikian ketika kamu berada jauh di bawa lelah, kamu datang mencari sebuah sandaran untuk mengembalikan semua semangatmu untuk terus melangkah.  Saat yang sama aku lelah dan kamu pun lelah, lalu saling memberikan semangat yang masih tersisa, barulah kemudian kita menemukan kenyamanan dan rasa aman. Walaupun benar, bahwa kita sama-sama lelah tapi tidak ingin melihat ada yang terjatuh. Itulah ke...

Bangun Membangun Kebutuhan

Lakukan saja apa yang membuat kamu menemukan kesenangan bagi dirimu sendiri, namun tetap mempertimbangkan kebutuhan. Sesuaikan dengan kebutuhan dan fokuskan diri pada perubahan lewat kesenangan yang sudah kamu bangun. Bila masih tertunduk pada komentar-komentar manusia—itu tidak ada ujungnya. Tak mengapa membuka telinga bila memang komentarnya sesuai dengan kebutuhan. Keputusan untuk mendengarkan komentar ada ditanganmu. Dan, kalaupun kesenangan yang kamu bangun sama sekali tidak merugikan orang lain, saat itulah kesempatanmu untuk memenangkan dirimu. Bayangkan; dengan kesenangan yang kamu bangun dan kemudian orang sekitarmu merasa risih—padahal tidak merugikan siapa pun, maka saat itulah kamu mendapatkan dua keutungan: petama, kamu dapat tumbuh dan kedua, orang sekitarmu masih memikirkan kesenanganmu, sementara kamu sudah memikirkan tangga berikutnya sebab kamu sudah selangkah lebih maju. Dulu mungkin kamu terlalu banyak memakan semuanya, tak masalah. Tak-tik untuk mengubah dunia mem...

Tetanggaku

"Orang yang paham akan cenderung mempelajari dan, orang yang tidak paham akan cenderung menghakimi." Masyarakat Sini. Beginilah hidup di tengah-tengah mereka. Apa-apa kalau kita orang tak berada yah di lihat ke bawah. Padahal aslinya otak mereka harus sedikit di bedah. Tidak harus banyak. Sedikit saja.  Hidup di tengah-tengah mereka, tidak jarang membuatku menepi. Bukan karena takut atau tidak berani. Tapi, mau dikasih tahu mereka tidak peduli. Dibiarkan malah menjadi-jadi. Lepas itu. Mereka yang sepaham akan sama-sama mempelajari dan mereka yang tidak sepaham akan sama-sama menghakimi.  Tak jarang pula, aku kerap menemukan kejanggalan. Yang katanya beretorika jadinya mengada-ada. Yang katanya berlogika jadinya pasang dada. Yang katanya punya segalanya jadinya meminta-minta tenaga kerja. Jadi pusing yang pamam mana dan yang tidak.