Langsung ke konten utama

Postingan

Rasa Sakit (Batin)

Rasa sakit! Mendengarnya saja sudah membuat kepalaku khawatir tentang itu. Tapi tidak. Ini bukan tentang luka-luka kok. Bukan tentang kakinya patah, wajahnya lecet, tangannya kegores, bukan itu kok. Yah emang sih, ini juga salah satu luka. Tapi bedanya ia tak berdarah. Sudah tak asing lagi dengan kata itu kan? Yaps, benar. Ini adalah tentang rasa sakit dalam batin. Kalau dipikir-pikir rasa sakit itu benar-benar membuatku lelah. Namun, faedahnya cukup bagus dan yah sangat bagus. Bukan malah mau nyari rasa sakit terus tapi maksudnya rasa sakit itu justru ada gunanya. Bahkan, untuk seorang sepertiku sangat membutuhkan itu. Tanpa rasa sakit aku sulit untuk melakukan sebuah aksi. Walaupun bahagia juga masih bisa beraksi tapi tak jarang cuma itu—itu-itu saja. Dengan kata lain, beraksi tapi cuman berputar di situ-situ saja. Kalau bahagianya udah hilang pasti bakal down lagi. Akan tetapi dengan rasa sakit itu, aku bisa saja terus-terusan mencoba bangkit, jatuh, bangun lagi sampai rasa sakit it...

Dari kaca mata mereka

Ayam-ayam jantan berkabar ke seluruh kota. Si tukang koran baru saja lewat. Para mahasiswa satu per satu tampak lalu lalang. Pameran-pameran kaos baru saja di mulai. Stile-stile mulai beradu gengsi. Sepatu putih, celana jeans , dan tentu saja jaket over size . Kalau tidak, yah pasti baju dengan ukuran yang melebihi badan si pamerannya.  Kurang lebih dua menit. Aku baru saja tiba di kampus. Celana ala kadarnya. Kata mereka sih, ini adalah celana buangan. Kemeja flanelku terkesan seperti "Jamet" kata temanku. Itu masih mending, masih nyaman, dan tentu tidak merugikan mereka. Di atas kepalaku berdiamlah kupluk yang paling banyak di lirik oleh mereka. Kata mereka lagi, ini membuatku tampak seperti anak kuli bangunan bukan anak kuliahan.  Tertelan menit. Lewatlah sepatu putih melintas di depanku. Kali ini aku sudah duduk di tangga. Mumpung dosen belum ada, barangkali sebatang rokok masih bisa membunuh pikiranku tentang lirikan mereka. Contohnya saja yang baru saja lewat. Sepatu pu...

Tetanggaku

"Orang yang paham akan cenderung mempelajari dan, orang yang tidak paham akan cenderung menghakimi." Masyarakat Sini. Beginilah hidup di tengah-tengah mereka. Apa-apa kalau kita orang tak berada yah di lihat ke bawah. Padahal aslinya otak mereka harus sedikit di bedah. Tidak harus banyak. Sedikit saja.  Hidup di tengah-tengah mereka, tidak jarang membuatku menepi. Bukan karena takut atau tidak berani. Tapi, mau dikasih tahu mereka tidak peduli. Dibiarkan malah menjadi-jadi. Lepas itu. Mereka yang sepaham akan sama-sama mempelajari dan mereka yang tidak sepaham akan sama-sama menghakimi.  Tak jarang pula, aku kerap menemukan kejanggalan. Yang katanya beretorika jadinya mengada-ada. Yang katanya berlogika jadinya pasang dada. Yang katanya punya segalanya jadinya meminta-minta tenaga kerja. Jadi pusing yang pamam mana dan yang tidak.